Sejarah
perkembangan Belitang
1.
Pendahuluan
Daerah
belitang pada awalnya merupakan sebuah daerah yang masih berupa hutan belukar
yang lebat. Kontur daerah belitang tergolong datar untuk sebuah daerah di
sebuah di kawasan sumatera selatan yang kebanyakan merupakan daerah yang
berawa-rawa, meski demikian belitang masih memiliki ciri khas seperti daerah di
sumsel lainnya, yaitu memiliki aliran sungai-sungai, yaitu sungai komering, dan
jugabeberapa sungai yang relatif lebih kecil yaitu sungai macak dan sungai yang
menjadi cikal bakal nama belitang yaitu sungai belitang.
2.
Kondisi
geografi
Luas wilayahnya adalah 73,04 km 2 ,Belitang
dilalui oleh saluran irigasi buatan yang terbagi dalam beberapa bendungan. Oleh
penduduk bendungan ini dinamakan bendungan komering (bk). Sebutan ini kemudian
digunakan untuk memberi nama daerah-daerah yang dibagi oleh bendungan tersebut.
Bk yang ada di kecamatan belitang adalah bk
6 sampe bk 10. adapun batas –
batas kecamatan belitang adalah sebagai berikut: sebelah utara berbatasan dengan kecamatan
belitang madang raya sebelah selatan
berbatasan dengan kecamatan buay madang timur dan kecamatan belitang, jaya sebelah timur berbatasan dengan kecamatan
belitang 3 dan kecamatan belitang jaya
sebelah barat berbatasan dengan kecamatan buay madang timur
Selain
etnis jawa juga terdapat juga etnis bali, yang datang pada masa kemudian.
Kebanyakan etnis bali ini beragama hindu, namun pada perkembangan selanjutnya
mulai ada beberapa etnis bali ini yang memeluk agama islam. Etnis bali ini
kebanyakan berada di desa nusa bali, sebagian nusa raya di bagian pedalaman dan
beberapa desa di arah martapura. Kebanyakan daerah orang-orang bali cukup maju
dan memiliki pendapatan yang baik. Beberapa suku lain pun mulai dapat ditemui
seperti suku madura, batak, dan sedikit orang etnis cina, yang jumlahnya tidak
begitu signifikan. Selain itu juga suku ogan, kisam dan dari daerah lain di
sumatera selatan.
3.
Sejara
Belitang
Belitang
merupakan sebuah kawasan daerah transmigrasi dengan beragam suku, etnis, dan
juga agama. Suku dan etnis yang terbesar
adalah suku jawa yang kebanyakan kaum transmigran dari daerah jawa tengah dan
yogjakarta. Orang-orang transmigrasi ini tidak datang secara serentak namun
secara bergelombang yang dimulai sejak masa akhir kolonialisme belanda dan pada
masa selanjutnya yang dimulai sejak sekitaran sebelum tahun 1930-an. yang
terdiri dari 137 UPT dengan jumlah transmigran sebanyak 45.067 KK (175.530
jiwa).
Menurut
cerita mbah Saginem, salah seorang dari puluhan ataupun bahkan ribuan orang
yang meemilih meninggalkan tanah kelahiran untuk memilih pergi menuju daerah baru di tanah sumatera. Beliau
meninaggalkan tanah jawa sejak beliau masih kecil karena daerah di tanah jawa
sudah tidak memberikan jaminan keadaan yang lebih baik. Beliau meninggalkan
tanah jawa sejak beliau memasuki usia batita. Pemberhentian pertama beliau di
tanah sumatera adalah di sebuah kawasan di sebuah daerah yang sekarang bernama
desa cahya negeri, yang saat ini masuk dalam daerah administrasi dari kabupaten
ogan komering ilir, kurang lebih sekitar satu setengah jam perjalanan dengan
kendaraan dari belitang sekarang.
Orang-orang
transmgran ini menetap di daerah ini selama beberapa bulan. Disini mereka mulai
membuka daerah perkampungan baru. Mereka menanam pohon kelapa, membuka lahan
pertanian membangun pondokan dan mulai membuka hidup di tanah baru di bumi
sriwijaya. Beberapa bulan disana pada masa kolonialisme jepang, semua yang di
usahakan sudah lebih baik, namun pada akhirnya, merekapun harus juga
meninggalkan daerah yang baru mereka buka ini. Mereka meninggalkan desa cahya
negeri karena sering terjadi serangan dan tekanan maupun teror yang dilakukan
oleh jepang. Selain itu daerah ini juga belum begitu stabil, mengingat tentara
jepang sering mengambil hasil panen para petani pada daerah ini.
Masih
menurut mbah saginem, pada masa itu masyarakat tidak diperbolekan untuk makan
nasi, mereka yang memiliki beras maka berasnya di ambil oleh tentara jepang.
Masyarakat pada waktu itu hanya diperboehkan memakan umbi-umbian seperti
singkong, ubi jalar dan lainnya. Untuk itu, mereka pun menyiasati hal ini,
semua beras yang mereka miliki diembunyikan dalam sebuah tempat yang biasa
disebut dengan grobog ( sebuah wadah
yang besar berbentuk kotak ) yang di atasnya ditutupi dengan jerami dan
dedaunan. Dan agar mereka tidak
diketahui oleh pemerintah jepang bila memassak nasi, mereka menyiasati dengan
menaruh nasi yang dimasak dibawah singkong dan umbi-umbian lainnya.
Hal-hal
dan masa sulit di desa cahya negeri ini memaksa sebagian dari mereka untuk
menyingkir kedaerah lain. Mereka pun berjalan bekilo-kilo jaraknya dan pada
akhirnya sampai di daerah yang bernama belitang, desa pertama yang pertama kali
didatangi adalah sebuah desa yang sekarang bernama desa tepung sari, yang saat
ini masuk dalam kelurahan desa tegal rejo, desa tetangga gumawang yang
merupakan pusat dari belitang, dan pusat kantor kecamatan belitang 1.
Menurut
Dra. Rahmawati, seorang guru senior di sekolah MAN gumawang belitang,
menyatakan bahwa dulu daerah belitang sudah ada beberapa suku komering di
daerah pedalaman di belitang yang berada di desa-desa yang cukup terpencil
seperti desa tanjung raya, dan kurungan nyawa, namun beberapa dari etnis
komering sudah berada di desa yang bernama gumawang. Akan tetapi daerah
gumawang ini dulunyya belum bernama gumawang. Nama gumawang sendiri didapat
setelah kedatangan kaum transmigran jawa kedaerah ini. Nama gumawang berasal
dari kata jawa awang-awangan yang
berarti malas-malasan. Kata ini merujuk pada orang jawa yang malas menggarap
lahan di daerah gumawang, mengingat daerah ini kurang subur. Saat ini gumawang
menjadi pusat dari belitang dengan menjadi pusat ekonomi, pendidikan dan
merupakan daerah yang lebih maju dibandingkan daerah lainnya, baik di desa-desa
ke arah martapura dan desa-desa ke arah selatan. Setelah terbukannya daerah
gumawang ini, maka mulai banyak kaum transmigran yang datang ke daerah ini
sehingga terbukalah daerah lain disekitarnya.
Setelah
kedatangan orang-orang jawa ini, belitang mulai tumbuh menjadi daerah pertanian
dan perkebunan. Pertanian padi menjadi komoditas utama dari daerah ini, setelah
sebelumnya masih berupa daeerah hutan belukar yang dipenuhi kaayu-kayu besar
dan binatang buas. Daerah yang sebelumnya merupakan daerah yang sepi dan
dipenuhi denngan hutan belukar, kini telah berubah menjadi sebuah daerah yang
cukup makmur. Sejak masa orde baru sampai dengan masa reformasi, perkembangan
belitang lebih menonjol dibendingkan dengan daerah lain dikawasan oku timur.
Daerah belitang merupakan kawasan yang pertama kali dikenal di daerah oku timur
ini, bahkan dari kota martapura sekalipun, yang saat ini menjadi ibukota oku
timur.
Asal
muasal nama belitang sendiri berasal dari sebuah sungai yang bernama sungai
belitang. Konon sungai ini memiliki bentuk yang beerbelit- belit dan memiliki
banyak pohon-pohon besar yang melintang di sekitar sungai, karena itu jadilah
nama belitang yang dikenal hingga sekarang.
Seiring
dengan terbentuknya kabupaten oku timur,
Belitang menjadi salah satu dari 16 kecamatan awal yang ada di kabupaten
ogan komering ulu timur,yang merupakan pemekaran dari kabupaten ogan komering
ulu. kecamatan belitang telah mengalami
pemekaran menjadi kecamatan belitang ii, belitang iii, dan belitang
jaya. kecamatan belitang sekarang terdiri dari 22 desa definitif dan beribu
kota di gumawang. pada tahun 2007 daerah belitang dijadikan kota terpadu
mandiri bertepatan dengan hari jadi ke-3 kabupaten ogan komering ulu timur.
Sebelumnya
kecamatan belitang merupakan kecamatan yang cukup besar dan luas. Namun seiring
perkembangan waktu, terjadi pemekaran di kabupaten ogan komering ulu
timur,sehingga kecamatan belitang pecah menjadi 4 kecamatan,yaitu kecamatan
belitang sendiri sebagai kecamatan induk dan 3 kecamatan baru. kecamatan baru
tersebut adalah kecamatan belitang 2, kecamatan belitang 3, dan kecamatan
belitang jaya.
4.
Keadaan
belitang masa kini
Pada
masa orde baru, Belitang terkenal sebagai penghasil padi.Ribuan hektare dari
wilayah Belitang ditanami padi.Belitang pun menjadi lumbung padi Provinsi
Sumatera Selatan bahkan Nasional. Hampir seluruh Presiden di Negeri ini pernah
melakukan Panen Raya di Belitang, mulai dari Bapak Soeharto, Ibu Megawati
Soekarno Putri, hingga Presiden kita sekarang, Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono pada Tahun 2005 yang lalu. Kemajuan bidang pertanian di Belitang
tidak terlepas dari peran aktif Penyuluh Pertanian yang senantiasa memberikan
penyuluhan kepada para petani. Selain itu, hal lain yang ikut mendukung adalah
adanya saluran irigasi yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Saluran
irigasi ini berasal dari Sungai Komering, salah satu sungai di wilayah provinsi
Sumatera Selatan yang berhulu di Sungai Musi.Dengan fasilitas pertanian yang
memadai dan daerah yang luas, wajar jika Belitang menjadi daerah tujuan
transmigrasi. Atas prestasi kemajuan yang dicapai, pada Tanggal 17 Januari
2007, menteri tenaga kerja dan transmigrasi yang diwakili oleh Dirjen P2MK,
meresmikan Belitang sebagai Kota Terpadu Mandiri (KTM).
Kecamatan belitang
adalah salah satu kecamatan yang mempunyai potensi besar di bidang
pertanian,dimana mayoritas mata pencarian masyarakatnya adalah di bidang
pertanian, khususnya padi sawah berbeda dengan nasib para petani di daerah lain
di Sumsel yang umumnya pas-pasan, masyarakat petani di Belitang bisa dibilang
hidup berkecukupan sandang, pangan, dan papan. Kemakmuran itu tercermin dari
rumah-rumah penduduk yang rata-rata sudah bertembok, lantai tegel, atau plester
semen.Sebagian rumah juga sudah dilengkapi antena parabola besar.Rasanya sulit
ditemukan rumah dari bambu atau kayu yang reyot. Di Kecamatan Belitang I, telah
berdiri dealer mobil yang menunjukkan daya beli masyarakat sekitar lumayan
tinggi.
Beras yang diproduksi di kabupaten ogan
komering ulu timur lebih dikenal dengan sebutan “beras belitang” meskipun
sebagian berasal dari kecamatan lain,bukan dari kecamatan belitang. Berdasarkan data yang diberikan oleh uptd
pertanian tanaman pangan dan hortikultura, luas sawah yang ada di kecamatan
belitang seluas 5.309,75 ha. Hampir seluruh desa di kecamatan belitang
mempunyai lahan persawahan. Seiring dengan kemajuan ekonomi di kecamatan
belitang, lahan sawah pun beralih fungsi menjadi tempat perdagangan, khususnya
yang terletak di pinggir jalan utama.
Pada periode ini
masyarakat belitang mengalami masa yang baik, sistem irigasi untuk pertanian
mulai diperhatikan dan sudah dimulai pembangunanya. Pada akhirnya dapat di
lihat, bahwa daerah ini yang semula merupakan daerah kumuh berubah menjadi
daerah yang jauh lebih baik.. Karena itu perusahaan beras pemerintah Bulog
mulai melirik daerah ini, dan pada akhirnya mendirikan kantor cabangnya di bk
16.
Selain bidang pertanian
bidang perkebunan pun turut mendapat perhatian, mengingat di oku timur sendiri
terdapat banyak perkebunan rakyat seperti karet. Daerah daerah pedalaman yang
relatif kurang subur diubah menjadi perkebunan karet,perkebunan karet banyak
ditemui di jalan lintas profinsi di daerah komering, di kecamatan belitang 3
terutama di desa nusa raya nusa tunggal, nusa bali, nusa bakti, nusa jaya, nusa
tenggara dan beberapa desa lainnya.
Bahkan untuk sekarang ini di beberapa daerah di belitang sendiri pun
sudah mulai membuka perkebunan karet baru di beberapa wilayah di oku timur. Ini
dapat dimengerti, mengingat penghasilan dari sawah saja tentu belum cukup
mencukupi kebutukan hidup mereka karena sawah hanya dipanen selama 3 bula
sekali dengan modal yang besar.sekitar 2-3 juta rupiah permusimnya dan hanya
mendapatkan hasil kotor sekitar 5 juta rupiah. Berbeda dengan perkebunan karet,
karet dapat di panen seminggu sekali ataupun malah bahkan bisa 3 hari sekali
dengan hasil yang lumayan.
Selain perkebunan karet, terdapat pula
perkebunan tebu yang berada di ddaerah BK.16. selain itu perkebunan lain nya seperti duku
juga terdapat di belitang. Ekonomi lainnya dibelitang juga sudah mulai
berkembang ekonomi dari sektor swasta seperti dari budi daya ikan, dan juga
dari perdagangan.
Kemajuan belitang pada
bidang ekonomi tidak sejalan dengan keadaan di bidang sistem transportasi. Di
jalan jalan profinsi dioku timur pada umumnya dan belitang pada khususnya,
sangat kurang memadai. Di berbagai tempat banyak jalan berlubangsehingga
kesulitan bagi masyarakat untuk memasarkan produknya, sebagai contoh jl.
Jenderal sudirman di belitang yang menghubungkan antara daerah lempuing di
kabupaten oki menuju lampung dan juga penghubung dengan ibukota kabupaten
martapura. Selain itu juga jl. Lintas profinsi yangmenghubungkan belitang
dengan kota kayu agung, dan juga palembang.
Beberapa kali bupati
oku timur saat itu meminta kepada pemerintah profinsi untuk memperbaiki
jalan-jalan di wilayah administrasi oku timur, mengingat jalan-jalan tersebut
merupakan jalan-jalan profinsi yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh pemkab.
Selain rusak, jaln profinsi ini juga rawan dengan kriminalita di berbagai
tempat perbatasan oku timur, seperti perbatasan belitang dengan komering maupun
belitang dengan martapura dan juga belitang dengan lempuing oki dan mesuji.
Harapan kami sebagai masyarakat
seharusnya pemerintah memperhatikan kriminalita di daerah perbatasan, terutama
bagi pemkab, dan juga pemprof.
Seharusnya, bila
aksesbilitas masyarakat mudah maka dapat dipastikan belitang dan daerah lainnya
akan mendapatkan kemakmuran. Hal ini wajar mengingat hasil sumber daya dan
potensi yang dimiliki daerah ini cukup memadai. Dari segi sdm nya pun sudah
cukup memadai, terutama pada masa kini, sudah mulai banyak yang belajar sampai
universitas negeri di indonesia, seperti universitas sriwijaya, universitas
gajah mada, UNY, UI,UIN Syarif Hidayatullah dan lain-lain. Karena dapat
dipastikan kemajuan ibidang aksesbilitas transportasi akan menjadi pokok dari
kemajuan masyarakat.
5.
Wisata
dan kebudayaan di belitang
1. Tempat wisata di belitang
Ø .
Rumah Keraton Tanjung Raya Belitang
Rumah
Keraton ini terletak di Desa Tanjung Raya 9 KM dari Kecamatan Belitang dan 50
KM dari Martapura. Rumah Keraton ini berdiri Tahun 1810 yang dengan ukuran 18M
X 22 M yang merupakan kediaman dari Ratu Bagus Baginda Ali yang merupakan Putra
dari Raja Lampung Way Kanan. Serta dirumah ini juga banyak tersimpan benda –
benda peninggalan sejarah.
Ø Rumah
Limas Desa SidoMulyo Belitang
Rumah
Limas ini berada 7 KM dari Kecamatan Belitang dan 50KM dari Ibu Kota Kabupaten
OKU Timur, sebelumnya Rumah Limas ini terletak di Desa Tanjung Raya kemudian
pada tahun19550 dipindahkan oleh Pasirah Muhammad Hasan ke Simpang Mesir Desa
Sidomulyo Kecamatan Belitangyang datang dari pegunuh .
Ø Pure
Agung Dharma Kerti ( Sinar Bali )
Pura ini merupakan tempat ibadah
umat Hindu, pure di desa sinar Bali Belitang III ini berjarak 69 KM dari kota
Martapura. Pada umumnya penduduk desa ini merupakan orang Bali. Dari keterangan
beberapa orang sesepuh desa bahwa nama Sinar Bali dimaknai sebagai bagian Pulau
Bali yang sebenarnya. Kondisi kesejahteraan masyarakatnya sangat sejahtera dan
penduduknya juga mempunyai sifat ramah tamah, berbudi luhur serta memegang
teguh nilai spiritual keagamaan yang sma dengan keaqdaan masyarakat di Balingan
dengan semangat untuk berjuang .
Ø
Taman
singa Apor
Taman ini merupakan salah satu
tempat rekreasi yang berada di belitang, taman ini dibangun pada tahun 2010.
Lokasinya berada di bk 10 depan terminal dan berseberangan dengan masjid agung
belitang.
2.
bidang budaya
Belitang
merupakan salah satu basis pelestarian budaya Jawa di Sumatera yang masih kuat
hingga sekarang.Berbagai pertunjukan seni tradisional masih terus digelar,
seperti reog, jatilan, ketoprak, dan wayang kulit.Soal wayang kulit, dari
sekitar 100 dalang Wayang Purwa yang ada di Sumsel, sebanyak 67 dalang tinggal
di daerah Belitang.Sementara untuk budaya suku asli sendiri sudah hampir tidak
terlalu menonjol. Sejauh yang penulis ketahui, sampai saat ini budaya suku asli
yang masih ada hanyalah ”runcak-runcakan” atau lebih populer di kenal dengan
sebutan ”lempar selendang”. Namun secara garis besar, budaya di Belitang lebih
di dominan oleh budaya orang-orang pendatang (transmigrasi).
Kebudayaan
lain yang ada di Belitang adalah tradisi ngaben atau pembakaran jenazah dalam
kebudayaan hindu. Kebudayaan ini masih ada dan dipeang teguh oleh masyarakat
hindu bali yang tinggal diwilayah belitang dan sekitarnya. Selain tradisi ini,
juga terdapat perayaan hari raya nyepi dengan membawa ogoh-ogoh juga beberapa
tradisi lain khas bali.
6.
penutup
Bellitang
merupakan daerah yang relatif baru yang ada diwilayah oku timur dan
sumattera selatan. Meskipun tergolong
baru belitang mampu menunjukan bahwa belitang mampu menkadi daerah yang cukup
maju. Dengan proses sejarahnya yang singkat, sebuah prestasi tersendiri untuk
mampu berdiri dan menjadi basis kekuatan nasional dibidang pangan